INILAH.COM, Jakarta – Dunia khawatir ketegangan antara Iran dan negara Barat terus meningkat. Tak heran bila harga minyak mentah terus membubung tinggi.
Minyak mentah Brent pada Rabu (1/1) pukul 0559 GMT (atau sekitar 13.00 WIB) terpantau naik 44 sen menjadi US$ 111,42 per barel. Sedangkan minyak mentah AS naik 27 sen menjadi US$ 98,75 per barel.
Pimpinan parlemen AS sedang mempertimbangkan langkah-langkah untuk menambah paket sanksi baru yang akan mengeluarkan perusahaan minyak nasional dan pelayaran Iran. Selain membatasi kemampuan Teheran untuk memanfaatkan layanan perbankan elektronik.
Amerika Serikat memberlakukan sanksi paling berat terhadap Iran, setelah Presiden Barack Obama pada 31 Desember kemarin meresmikan undang-undang sanksi baru atas transaksi yang melibatkan bank sentral Iran. Sedangkan Uni Eropa pekan lalu memberlakukan larangan pembelian, impor atau pengangkutan minyak Iran.
Iran pun merasakan sanksi ekonomi yang diberlakukan akibat program nuklirnya, yang mampu memproduksi senjata. Hal ini terjadi meskipun para pemimpin Iran belum memutuskan untuk melakukannya. Demikian ungkap kepala intelijen AS kepada Kongres.
Selain Iran, sengketa antara Sudan dan Sudan Selatan atas biaya transit minyak terus berlanjut, menambah kekhawatiran pasokan. Sudan Selatan yang baru merdeka telah menutup produksi yang diperkirakan mencapai 350 ribu barel per hari (bph).
Kekhawatiran tentang krisis utang zona euro dan perlambatan pertumbuhan di AS juga terus membebani sentimen investor. Seperti Yunani yang mendekati kebangkrutan, harus membuat keputusan sulit beberapa hari mendatang untuk meraih kesepakatan peralihan utang dan paket bailout senilai 130 miliar euro untuk menghindari kegagalan utang.
Di Amerika Serikat, data menunjukkan harga rumah turun lebih dari yang diharapkan pada November, sementara kepercayaan konsumen memburuk pada Januari. Negara konsumen energi terbesar dunia ini pun menghadapi risiko penurunan pada 2012, karena melemahnya permintaan eksternal menambah beban untuk pertumbuhan ekspor negara itu.
Pasar juga mengamati stok minyak data AS yang dijadwalkan dirilis besok. Angka ini akan menjadi indikator permintaan dari konsumen minyak terbesar dunia.
Pekan lalu, persediaan minyak mentah AS naik 2,1 juta barel, kelompok industri American Petroleum Institute mengatakan, angka ini lebih rendah dari ekspektasi analis sebesar 2,4 juta barel.
Namun, Ken Hasegawa, manajer penjualan komoditas di Newedge Jepang memprediksikan minyak tetap berada dalam rangebound pekan ini, karena adanya tarik menarik faktor bullish dan bearish.
"Ada faktor positif dari kekhawatiran pasokan dari Iran dan Sudan Selatan. Namun, di sisi lain, kita memiliki faktor bearish dari ekonomi lemah di Eropa yang akan mengurangi permintaan minyak," katanya.
Sentimen positif untuk harga minyak berasal dari Indeks Purchasing Managers resmi China yang menunjukkan sektor manufaktur naik secara moderat pada Januari, dengan indeks naik hingga 50,5 dari 50,3 pada Desember. Hal ini di atas perkiraan 49,5.
Berdasarkan hal ini, Hasegawa melihat level support untuk minyak mentah Brent pekan ini di level US$ 110 per barel dengan kenaikan terbatas pada US$ 112,50. Sedangkan minyak mentah AS diperkirakan bertahan di kisaran US$ 98 dan US$ 103 per barel.