Showing posts with label Saham. Show all posts
Showing posts with label Saham. Show all posts

02 February 2012

Beli Newmont, Menkeu Tunggu Kajian Kemenkum HAM

INILAH.COM, Jakarta - Menteri Keuangan Agus Martowardojo masih menunggu hasil kajian Kementerian Hukum dan HAM untuk mengajukan berkas pembelian divestasi 7% saham PT Newmont Nusa Tenggara.

Hal tersebut diungkapkan Dirjen Kekayaan Negara Kementerian Keuangan Hadiyanto di Jakarta, Kamis (2/2). "Iya tinggal tunggu disana, Pak Menteri (Agus Marto) juga sudah sampaikan. Soon (segera) lah kita ketemu di Mahkamah Konstitusi (MK)," tuturnya.

Ia berharap, dengan adanya pemeriksaan di MK transaksi pembelian divestasi tersebut bisa segera dituntaskan. "Nah, itu yang kita harapkan ke MK, pemeriksaan bisa berjalan lancar, para saksi ada di tempat, sehingga dengan mudah dan diharapkan sebelum berakhirnya SPA (sales purchase agreement) itu sudah bisa ada keputusan. Jadi clear transaksi ini harus bagaimana," paparnya.

Pemerintah pusat yang diwakili Kemenkeu, mengaku telah menyiapkan sejumlah dokumen dan administrasi yang dibutuhkan terkait divestasi tersebut, saat pemeriksaan MK nanti. "Dan sekarang dalam tahapan koordinasi dengan Kemenkumham sebagai kementerian yang bertanggung jawab di bidang hukum, tentu di sana sedang dipelajari mengenai rencana untuk memastikan diperoleh hasil yang diharapkan banyak pihak mengenai transaksi ini," ungkapnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana membenarkan pihaknya telah diminta pandangannya terkait kisruh divestasi saham PT Newmont oleh pemerintah sebesar tujuh persen. Denny mengatakan pihaknya tengah mencari solusi persoalan tersebut. "Benar kami diminta untuk pelajari, mengkaji dari sisi pendekatan hukum bagaimana solusi persoalan divestasi saham Newmont. Koordinasi dengan menteri keuangan, menteri ESDM sedang dilakukan," tutur Denny di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menurut Denny, terdapat beberapa solusi alternatif yang sedang dimatangkan pihaknya. Tapi ia enggan menyebutkan apa saja solusi tersebut. Solusi alternatif ini sifatnya belum final. "Pada saatnya masyarakat akan tahu. Apapun solusi itu yang kami tempuh terbaik bagi masyarakat Indonesia dan Newmont sendiri," ujarnya.

Adapun perbedaan pendapat antara Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), DPR, dan menteri keuangan adalah DPR meminta menteri ESDM memberikan kesempatan kepada daerah membeli 7% saham Newmont. Di sisi lain, Agus Marto berkeinginan membeli 7% saham Newmont melalui Pusat Investasi Pemerintah (PIP). BPK berpendapat, PIP perlu meminta persetujuan DPR sebelum membeli tujuh persen saham Newmont.
»»  SELENGKAPNYA...

01 February 2012

Inilah Daftar Pemegang Surat Utang AS Terbesar

INILAH.COM, Jakarta - Akibat belanja sangat besar pemerintah AS yang belum pernah terjadi sebelumnya untuk memperbaiki perekonomian, ada kebutuhan yang sama besar untuk mengumpulkan uang guna membayarnya.

Hal ini dilakukan melalui pinjaman, di mana negeri Paman Sam ini menjual surat utang dalam bentuk yang bervariasi. Untuk investor, tagihan pemerintah berupa notes dan bond dianggap aman karena mereka memiliki tingkat yang dijamin kembali, berdasarkan keyakinan dalam pendapatan pajak AS di masa mendatang.

Pemerintah memiliki sebagian dana operasi melalui obligasi selama beberapa dekade. Pinjaman ini menambah utang nasional, yang baru-baru ini telah melampaui US$15 triliun dan meningkat setiap detik. Jumlah utang cepat mendekati batas atas utang federal, batas hukum pinjaman yang saat ini di kisaran US$16,4 triliun.

Banyak surat utang yang dipegang oleh sektor swasta, tetapi sekitar 40% dipegang oleh entitas publik, termasuk bagian-bagian dari pemerintah.

Adapun negara-negara asing yang terdaftar dalam investor swasta dan publik, menurut data bulanan Kementerian Keuangan AS berdasarkan hasil survei CNBC adalah:

1. Swiss AS yang memegang surat utang AS sebesar US$113,9 miliar
Kepemilikan Swiss atas surat utang AS mencapai tertinggi di US$147,5 miliar atau sekitar 28% PDB negara pada Agustus 2011, tapi telah turun dalam beberapa bulan menjadi US$113,9 miliar. Kepemilikan Swiss atas surat utang AS ini pun telah mengalahkan Hong Kong, Rusia dan Kanada dalam beberapa tahun terakhir.

2. Taiwan yang memiliki surat utang AS sebesar US$149,6 miliar
Kepemilikan Taiwan atas surat utang AS relatif stabil selama setahun terakhir, tapi dalam dua tahun terakhir ini mengalahkan Rusia dan Hong Kong dalam total kepemilikan. Sampai saat ini, Taiwan memegang US$149,6 miliar di Treasury securities AS, dibandingkan dengan Rusia US$89,7 miliar. Kepemilikan Rusia telah dengan cepat menyusut akibat diversifikasi negara ini.

3. Caribbean Banking Centers yang memiliki surat utang AS sebesar US$185,3 miliar
Treasury AS mengidentifikasi grup ini sebagai lembaga di Bahama, Bermuda, Kepulauan Cayman, Antillen Belanda, Panama, dan Kepulauan Virgin Britania Raya saat ini memegang US$185,3 miliar surat utang AS, naik dari US$106,6 miliar pada Juni 2008, tetapi tetap dari grup tertinggi dari US$213,6 miliar pada Maret 2009.

4. Brasil yang memiliki surat utang AS sebesar US$206,4 miliar
Raksasa ekonomi di Amerika Selatan ini memiliki surat utang sebesar US$206,4 miliar, menurut data departemen keuangan. Investasi Brasil di surat utang AS telah berfluktuasi sedikit dalam dua tahun, dengan koleksi saat ini di bawah level tertinggi dari $211,4 miliar pada Mei 2011.

5. Oil Exporters yang memiliki surat utang AS sebesar US$232 miliar
Industri minyak besar berarti uang besar... dan investasi besar ke surat utang AS termasuk dalam kelompok eksportir minyak seperti Ekuador, Venezuela, Indonesia, Bahrain, Iran, Irak, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Aljazair, Gabon, Libya dan Nigeria. Grup ini memegang total US$232 miliar di surat utang AS, di kisaran US$204 miliar hingga US$236 miliar yang telah dipelihara selama tahun yang lalu.

6. Perusahaan asuransi yang memiliki surat utang AS sebesar US$250,1 miliar
Menurut Dewan Gubernur Federal Reserve, perusahaan asuransi memegang US$250,1 miliar di Treasury securities AS. Kelompok ini mencakup perusahaan-perusahaan asuransi properti-kecelakaan dan asuransi jiwa.

7. Depository Institutions yang memiliki surat utang AS sebesar US$284,5 miliar
Dari Juni 2011, Dewan Gubernur Federal Reserve mencatat depository institutions memegang sekitar US$284,5 miliar di surat utang AS. Kelompok ini termasuk bank komersial, bank tabungan dan credit unions. Pada tahun 2011, kepemilikan lebih dari tiga kali lipat dari 2008 sebesar US$105 miliar. Dari Juni dan September 2011, kepemilikan surat utang AS depository institutions turun hampir US$44 miliar.

8. Inggris yang memiliki surat utang AS sebesar US$429,4 miliar
Inggris saat ini memegang 429,4 miliar di surat utang AS, tetapi investasi negara telah meningkat secara dramatis selama dua tahun. Sekarang di semua level tertinggi (dan cepat), Inggris memiliki utang terendah pada Juni 2008 sebesar US$55 miliar.

9. Negara bagian dan pemerintah daerah AS yang memiliki surat utang sebesar US$484,4 miliar
Negara bagian AS dan pemerintah daerah telah hampir memiliki setengah-triliun dolar yang diinvestasikan di surat utang AS, menurut Federal Reserve. Tingkat investasi tetap stabil sejak 2006, bergeser ke kisaran US$484 miliar dan US$576 miliar. Koleksi utang saat ini, mewakili tingkat agregat terendah untuk negara dan pemerintah daerah sejak Desember 2005, ketika mereka memegang US$481,4 miliar.

10. Perusahaan Reksa Dana yang memiliki surat utang AS sebesar US$653,5 miliar
Menurut Federal Reserve, reksa dana memegang jumlah terbesar keenam surat utang AS dibandingkan dengan kelompok lain, meskipun kepemilikan reksa dana telah berkurang sebesar lebih dari US$105 miliar sejak Desember 2008. Termasuk dana pasar uang, reksadana dan reksadana closed-end, kelompok ini menginvestasikan sekitar US$653,5 miliar di Treasury securities AS pada Juni 2011.

11. Dana Pensiun yang memegang surat utang AS sebesar US$842,2 miliar
Dana pensiun yang mengendalikan sejumlah besar uang, disediakan untuk pensiun pribadi, dan dengan demikian berkewajiban untuk melakukan investasi yang relatif aman. Kelompok ini, yang mencakup dana pensiun swasta dan lokal pemerintah, memegang US$842,2 miliar di surat utang AS. Kategori dana pensiun swasta juga termasuk Treasury securities AS yang dipegang oleh Federal Employees Retirement System Thrift Savings Plan G Fund.

12. Jepang yang memegang surat utang AS sebesar US$$1,038 triliun Satu dari mitra dagang AS terbesar, Jepang juga merupakan salah satu pemegang surat utang AS terbesar, yang saat ini memiliki US$1,038 triliun di Treasury Security.

13. Investor Lain/tabungan obligasi yang memegang surat utang AS sebesar US$1,107 triliun
Dengan memegang surat utang terbesar pada Juni 2011, kelompok yang sangat beragam ini termasuk individu, perusahaan-perusahaan yang disponsori pemerintah, broker dan dealer, bank personal trust, perkebunan, tabungan obligasi, perusahaan dan noncorporate businesses memiliki total US$1,107 triliun. Meskipun tingkat utang yang dimiliki savings bonds tetap konstan pada dasarnya sejak tahun 2000, kategori luas investor 'lainnya' telah hampir empat kali lipat sejak mencapai terendah empat tahun pada Desember 2007.

14. China yang memegang surat utang AS sebesar US$1,132 triliun
Asing terbesar pemegang sekuritas treasury AS, China saat ini telah mencapai US$1,132 triliun di surat utang AS, meskipun turun dari US$1,173 triliun pada Juli 2011.

15. Federal Reserve dan Intragovernmental Holdings yang memegang US$6,328 triliun surat utang AS
Pemegang tunggal terbesar dari utang pemerintah AS adalah Federal Reserve system. Sistem Fed bank dan intragovernmental holdings AS lainnya diperhitungkan memegang US$6,328 triliun pada utang Treasury AS paga September 2011. Jumlah ini adalah angka tertingginya akibat Federal Reserve terus meningkatkan neraca, sebagian untuk membeli surat utang pemerintah AS. Sekitar satu dekade yang lalu, kepemilikan pemerintah hanya US$2,5 triliun.
»»  SELENGKAPNYA...

Lompat 49%, Saham Surya Eka Perkasa Kena Auto Reject

Jakarta - Saham PT Surya Esa Perkasa Tbk (ESSA) menyentuh batas atas auto rejection, sesaat setelah mencatatkan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (1/2/2012).

Sejak pembukaan perdagangan hari ini, saham ESSA langsung naik ke level Rp 730 per lembar, naik dari harga perdana Rp 610 per lembar. Kenaikan harga saham terus terjadi dan tak dapat dibendung.

Hingga akhirnya saham ESSA tembus menyentuh batas atas auto rejection pada level Rp 910 per lembar. Hingga kini saham perseroan telah ditransaksikan pada volume 13,5 juta saham senilai Rp 11,33 miliar.

Menurut Direktur Equator Securities David Agus, saat penawaran umum saham ESSA banyak terserap oleh investor asing. Total 80% saham diserap asing khususnya oleh investor asal Hong Kong dan Singapura.

Asing melakukan pembelian melalui UOB Kay Hian Private Limited (Singapore) selaku agen penjual internasional (international selling agent). "Sisanya sebesar 20% dialokasikan ke investor institusi dan ritel lainnya, melalui para penjamin emisi efek," tutur David di Jakarta.

Hasil penjualan saham perdana, sekitar 75% digunakan untuk pengembangan kilang gas. Sisanya untuk pembayaran utang kepada Bank UOB Indonesia.
»»  SELENGKAPNYA...

Adaro Siap Bagi-bagi Dividen Rp 1,35 Triliun

Jakarta - Pemegang saham PT Adaro Energy Tbk (ADRO) siap-siap menerima bagi hasil atau dividen atas keuntungan pada tahun buku 2011. Perseroan mengusulkan pembagian dividen sebesar US$ 100 juta-US$ 150 juta atau hingga Rp 1,35 triliun.

Hal ini disampaikan Presiden Direktur Adaro Garibaldi Thohir usai pencatatan perdana saham PT Surya Eka Perkasa Tbk di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (1/2/2012).

"Sekitar US$ 100 juta-US$ 150 juta. Nanti tergantung pemegang saham disetujui atau tidak dalam RUPS Tahunan," katanya.

Ia menambahkan, hingga 2011 Adaro akan meraih laba bersih sekitar US$ 550 juta-US$ 580 juta atau hingga Rp 5,2 triliun. Jika menilik patokan laba ini, maka persentase dividen perseroan mencapai 18,18%-25,86%.

Sebagai informasi, total saham yang beredar emiten berkode ADRO ini mencapai 31.985.962.000 saham. Dengan asumsi kurs Rp 9.000 per dolar AS, maka dividen yang dibagikan berada pada kisaran Rp 154,75-Rp 163,19 per saham.

Sebelumnya pada 9 Desember 2011, perseroan telah membagikan dividen interim sebsar US$ 75,16 juta.

"Laba bisa mencapai US$ 550 juta-US$ 580 juta, karena didorong oleh pertumbuhan produksi dan harga jual batubara yang baik," ucap Garibaldi.

Lebih rinci ia menyebut, pencapaian laba terdorong oleh produksi batubara yang mencapai 47,7 juta ton, dengan penjualan 50 juta ton.

"Tahun ini kami targetkan konservatif mengingat krisis Eropa dan Amerika mau tidak mau dapat mempengaruhi harga jual batubara," imbuhnya.
»»  SELENGKAPNYA...