Showing posts with label Sains. Show all posts
Showing posts with label Sains. Show all posts

01 April 2012

Merkurius Panas, Tapi Diduga Punya Es



KOMPAS.com - Merkurius memang planet terdekat dengan Matahari dengan temperatur mencapai 400 derajat Celsius. Tapi, penelitian terbaru menunjukkan bahwa Merkurius mungkin memiliki air dalam bentuk es.

Sebelumnya, pengamatan dengan gelombang radio yang dilakukan di observatorium Arecibo di Puerto Rico menunjukkan adanya area kutub Merkurius memiliki warna terang.

Kini, pengamatan dengan kamera Mercury Dual Imaging System (MDIS) di wahana antaraiksa MESSENGER memperlihatkan bahwa warna terang itu ada di area bayangan permanen di kutub.

"Citra MDIS menunjukkan bahwa fitur terang radar di dekat kutub selatan Merkurius ada di area bayangan permanen. dan, di kutub utaranya juga terdapat hanya di area bayangan. Hasil ini mendukung hipotesis adanya es," kata Nancy Chabot, ilmuwan dari Johns Hopkins University Applied Physics Laboratory, Senin (26/3/2012).

Dugaan ini tentu masih perlu diuji. Ada kemungkinan juga bahwa fitur terang yang didapatkan merupakan senyawa lain. Penelitian masih harus dilakukan.

Meski demikian, temuan ini sangat menarik. Bagaimana bisa planet yang terdekat dengan matahari memiliki es?

Kalau terbukti, maka akan makin banyak benda di tata surya yang memiliki air dalam bentuk es. Telah diketahui, Bulan dan mars juga punya air dalam bentuk es.

Chabot mempresentasikan hasil penelitiannya di Lunar and Planetary Science Conference ke-43 di Woodlands, Texas.
»»  SELENGKAPNYA...

Ada Miliaran Bumi Super di Bimasakti


KOMPAS.com — Penelitian para astronom menunjukkan ada miliaran Bumi Super yang terdapat di Bimasakti. Bumi Super adalah planet dengan massa 1-10 kali Bumi.

Hasil tersebut didapatkan lewat deteksi dan ekstrapolasi dengan mengikutsertakan planet-planet yang mengelilingi bintang redup, yang disebut bintang katai merah. 

Untuk melakukan deteksi, tim menggunakan instrumen Harps yang ada di teleskop 3,6 meter di Observatorium La Silla, Cile. Harps mendeteksi planet berdasarkan pengaruh gravitasi planet itu pada bintangnya. 

"Observasi terbaru kami dengan Harps menunjukkan bahwa 40 persen bintang katai merah memiliki Bumi Super di zona layak huni, tempat air cair bisa terdapat di permukaannya," kata Xavier Bonfils dari Observatoire des Sciences de l'Univers de Grenoble, Perancis.

"Karena bintang katai merah sangat umum—ada 160 miliar di Bimasakti—ini membuat kami berkesimpulan bahwa ada puluhan miliar planet macam ini (Bumi Super) di galaksi kita saja," tambah Bonfils yang memimpin penelitian, seperti dikutip BBC, Rabu (28/3/2012). 

Bonfils dan rekannya sebelumnya melakukan deteksi adanya Bumi Super pada 102 bintang katai merah. Kemudian, mereka menemukan 9 planet Bumi Super dengan dua di antaranya berada di zona layak huni.

Data kemudian diolah dengan memasukkan pula bintang-bintang yang tak memiliki planet. Data yang diolah akan menunjukkan seberapa umum planet Bumi Super di bintang katai merah.

Hasil pengolahan data menunjukkan bahwa Bumi Super di zona layak huni dijumpai pada 41 persen kasus, dengan rentang antara 28 dan 95 persen. 

Menurut para astronom, ada sekitar 100 Bumi Super yang ada pada zona layak huni, pada jarak kurang dari 30 tahun cahaya dari bintang katai merah induknya. 

Lalu, adakah kehidupan di planet Bumi Super itu?

Karena bintang katai merah sering mengalami erupsi hingga mengirim sinar-X dan ultraviolet, maka kemungkinan kehidupan di Bumi Super yang berjumlah banyak itu tampaknya kecil. 

Meski demikian, peneliti akan tetap menyelidiki kemungkinannya. Mereka akan melihat tanda-tanda adanya molekul kehidupan, seperti oksigen.
»»  SELENGKAPNYA...

Struktur Geologi Misterius Tampak dari Angkasa



KOMPAS.com — Formasi besar dengan warna tembaga di Afrika Barat mendominasi sebuah foto memukau yang diambil oleh astronot dari Stasiun Antariksa Internasional (ISS).

Astronot Belanda, Andre Kuipers, mengambil gambar yang dikenal sebagai struktur Richat di Mauritania, saat stasiun ruang angkasa terbang di atas Gurun Sahara di Pesisir Atlantik Afrika Barat. 

Erosi dari berbagai lapisan batuan menciptakan area serupa cincin yang membentuk struktur luas. Meski begitu, menurut para ahli geologi, asal-usul struktur Richat tetap misterius.

Foto yang diambil Kuipers menunjukkan sudut pandang yang unik dari angkasa. Stasiun antariksa, tempat Kuiper berada, melayang sekitar 386 kilometer di atas permukaan Bumi. Menurut Badan Antariksa Eropa, gambar itu diambil pada tanggal 7 Maret menggunakan kamera Nikon D2Xs.

Selama berbulan-bulan mengisi pos di Stasiun Antariksa Internasional, para astronot sering melakukan observasi Bumi untuk ilmu pengetahuan dan pendekatan publik.

Sepanjang misi mereka, para astronot ini aktif dalam media sosial, seperti di Twitter atau Google + untuk berbagi pemandangan menakjubkan dari ruang angkasa.

Saat ini ada enam astronot di ISS, yakni Kuipers, Dan Burbank, dan Don Pettit dari AS, serta kosmonot Rusia, Anton Shkaplerov, Anatoly Ivanishin, dan Oleg Kononenko. Burbank adalah komandan misi ke-30 ISS.

Kuipers meluncur ke stasiun ruang angkasa pada Desember 2011. Dia bertugas di sana selama enam bulan. Kuipers, Kononenko, dan Pettit dijadwalkan kembali ke Bumi pada 1 Juli 2012.
»»  SELENGKAPNYA...

Lubang Hitam Bisa Melemparkan Planet



KOMPAS.com — Simulasi komputer menunjukkan bahwa gravitasi lubang hitam bisa melemparkan planet keluar dari orbitnya.
Planet yang terlempar lumrahnya akan bergerak dengan kecepatan 11-16 juta km per jam. Namun, bisa saja kecepatan mencapai 48 juta km per jam.
"Planet-planet itu akan menjadi benda tercepat yang bergerak di galaksi kita," kata Avi Loeb, peneliti di Harvard Smithsonian Center for Astrophysics di Massachusets, Amerika Serikat, seperti dikutip BBC, Jumat (23/3/2012).
Perlu diketahui, dengan kecepatan itu, planet bergerak 450 kali lebih cepat daripada kecepatan revolusi Bumi mengelilingi Matahari. Dengan kecepatan itu, manusia bisa pergi dari London ke New York hanya dalam waktu kurang dari 1/2 detik, atau bisa pergi ke Bulan dalam waktu hanya 30 detik.
Bagaimana planet bisa terlempar?

Peristiwa ini bisa dialami oleh planet yang ada dalam sistem bintang ganda atau tata surya yang memiliki dua bintang.
Jika tata surya tersebut ada di dekat lubang hitam, maka lubang hitam akan memakan salah satu bintang. Sementara itu, bintang lain akan terlempar jauh dengan kecepatan super-tinggi.
Planet-planet pengorbit bintang yang dimakan itulah yang bisa terlempar.
Menurut para astronom, terlemparnya planet ini pernah diobservasi tujuh tahun lalu. Astronom mendeteksi adanya benda angkasa yang bergerak keluar dari Bimasakti dengan kecepatan 2,4 juta km per jam.
»»  SELENGKAPNYA...

Dalam Gelap "Earth Hour", Mars Bersinar Merah



KOMPAS.com 
- Ada yang istimewa dari perayaan Earth Hour di Central Park, Jakarta, Sabtu (31/3/2012). Di tengah kegelapan ketika lampu mulai dimatikan pukul 20.30 WIB, Mars bersinar merah.
Sejumlah pengunjung, termasuk anak-anak, menyempatkan diri untuk mengamati Mars di stand Himpunan Astronom Amatir Jakarta (HAAJ) yang ada di Tribeca Park. "Pengen lihat ah, belum pernah lihat Mars," kata salah satu anak yang turut antusias mengamati langit.
Sementara, anak lain yang juga antusias mengamati bertanya-tanya, "Ada alien enggak ya?".
Mars terlihat di langit timur, dekat salah satu puncak Central Park dengan magnitud sekitar -2,6. Langit menjelang Earth Hour kebetulan mendukung pengamatan, tak ada awan yang menghalangi penampakan Mars.
Tak cuma Mars, 2 bintang juga terlihat dengan mata telanjang dan bisa diamati dengan jelas menggunakan teleskop. Dua bintang yang terlihat adalah Sirius dan Spica, masing-masing dengan magnitud -1,45 dan -0,5. Sirius adalah bintang paling terang yang bisa dilihat dari bumi. Sementara, Spica adalah bintang paling terang di rasi Virgo.
Sebenarnya, planet Saturnus juga bisa terlihat malam ini. Sayang, terang planet bercincin ini terhalangi oleh ketinggian gedung. Ahmad Zulfahmi dari Himpunan Astronom Amatir Jakarta mengatakan, "Earth Hour dengan mematikan lampu cukup membantu pengamatan."
Namun demikian, untuk melakukan pengamatan maksimal, masih diperlukan langkah lebih. "Kalau di kota seperti Jakarta, masih terganggu oleh efek polusi udara." Dengan kata lain, pengurangan polusi udara dan cahaya mesti dilakukan agar lebih banyak lagi fenomena langit yang bisa terlihat.
»»  SELENGKAPNYA...

02 February 2012

Pahatan Wajah Manusia di Angkasa



CILE, KOMPAS.com — Teleskop yang ada di Cile berhasil menangkap citra sebuah nebula atau kabut kosmis. Uniknya, nebula yang menjadi tempat kelahiran bintang tersebut tampak seperti pahatan wajah manusia di angkasa.

Situs Space.com, Rabu (1/2/2012), menyatakan bahwa nebula yang dimaksud ialah NGC 3324. Nebula tersebut penuh dengan bintang muda yang radiasi ultravioletnya menyebar ke segala arah.

Dalam gambar di bagian kanan, ada awan dan debu angkasa yang jika dicermati mirip dengan wajah manusia dilihat dari sisi samping kanan.

Citra ini ditangkap oleh Wild Field Imager di teleskop MPG/ESO 2,2 meter. NGC 3324 sering juga disebut Nebula Gabriela Mistar, sesuai nama seorang penerima nobel asal Cile.

Citra NGC 3324 tampak warna-warni, menunjukkan radiasi yang dikeluarkan oleh bintang-bintang di nebula itu. Tiap warna merepresentasikan hal yang berbeda.

Warna merah jambu memperlihatkan proses pengubahan susunan elektron dalam atom hidrogen. Sementara warna kuning kehijauan menunjukkan proses ionisasi oksigen.

NGC 3324 terletak pada jarak 7.500 tahun cahaya dari Bumi. Jutaan tahun lalu, nebula ini sangat aktif dan "melahirkan" bayi-bayi bintang dalam jumlah banyak.
»»  SELENGKAPNYA...

Ilmuwan Kembangkan Cara Membaca Pikiran



CALIFORNIA, KOMPAS.com
 - Ilmuwan asal Amerika Serikat berhasil mengembangkan cara untuk membaca pikiran orang. Ke depan, kemampuan membaca pikiran mungkin tak akan jadi istimewa.

Apa yang dilakukan ilmuwan itu sejatinya adalah merekonstruksi kata-kata berdasarkan gelombang di otak seorang pasien yang sedang berpikir tentang kata-kata yang dimaksud.

Untuk melakukannya, ilmuwan menggunakan teknik yang mengandalkan pada pengumpulan sinyal elektrik secara langsung dari otak pasien. Berdasarkan sinyal tersebut, ilmuwan menggunakan model komputer untuk merekonstruksi kata-kata yang sedang dipikirkan oleh sang pasien.

Studi dilakukan dengan mengimplantasi elektroda pada otak pasien. Pasien diminta mendengarkan percakapan, sementara ilmuwan menganalisis frekuensi suara untuk menentukan apa yang dipikirkan pasien. 

"Kami fokus pada cara otak mengolah suara percakapan," kata Brian Pasley, peneliti dari Institut Neurosains Helen Wills di Universitas California, Berkeley, California.

"Sebagian besar informasi dalam percakapan berfrekuensi antara 1-8000 Hertz. Intinya, otak mengolah suara dengan frekuensi beda itu di lokasi otak yang berbeda," tambah Pasley.

Dengan mendeteksi bagaimana dan dimana otak "menaruh: suara itu di lobus temporal (bagian otak yang bertugas pada pendengaran), ilmuwan bisa mengetahui kata yang didengar.

"Ketika area otak tertentu diaktivasi, kita mengetahui hal itu terkait dengan suara dengan frekuensi tertentu yang didengarkan," ungkap Pasley seperti dikutip AFP, Rabu (1/2/2012). "Jadi kita bisa memetakannya dan menggunakan aktivitas otak itu untuk meresintesis suara frekuensi tertentu yang sedang kita tebak," papar Pasley.

Yang kemudian dipetakan ilmuwan adalah struktur. Suara "S" yang berfrekuensi tinggi muncul di area tertentu otak. Sementara suara "U" muncul di bagian otak lain.

Untuk melakukan penelitian ini, ilmuwan mengajak 15 pasien yang akan menjalani bedah tumor dan epilepsi untuk menjadi sukarelawan.

Studi ini sendiri baru pertama kali pada manusia. Sebelumnya, studi pernah dilakukan pada musang untuk melihat suara yang didengarkan oleh hewan tersebut.

Penelitian nantinya akan dilanjutkan untuk mengetahui apakah proses mendengarkan kata-kata sama dengan proses mengimajinasikan suara atau kata-kata.

Informasi yang didapatkan pada penelitian ini dan lanjutannya bisa sangat bermanfaat untuk mengetahui apa yang sedang dipikirkan orang yang memiliki kesulitan berbicara.

Mindy McCumber dari Rumah Sakit Florida di Orlando, seperti dikutip BBC, Rabu, mengatakan, "Sebagai seorang terapis, saya bisa melihat implikasi potensial pada restorasi komunikasi untuk beragam penyakit."

"Ini berdampak besar bagi pasien yang memiliki kerusakan biologis dalam mekanisme berbicara karena stroke, penyakit Lou Gehrig dan tak bisa berbicara," tambah Robert Knight, professor psikologi dan neurosains dari Universitas California Berkeley.
»»  SELENGKAPNYA...