KOMPAS.com - Wajah Universitas Indonesia menuju kelas dunia mulai diwujudkan. Pembangunan infrastruktur kampus dengan fasilitas tak biasa begitu gencar dibangun di kampus UI Depok seluas 320 hektar.
Perpustakaan pusat UI The Crystal of Knowledge seluas 33.000 meter persegi dikunjungi ribuan orang per hari. Perpustakaan dengan koleksi sekitar dua juta buku dari kapasitas enam juta buku itu menjadi ”magnet” baru.
Perpustakaan pusat UI The Crystal of Knowledge seluas 33.000 meter persegi dikunjungi ribuan orang per hari. Perpustakaan dengan koleksi sekitar dua juta buku dari kapasitas enam juta buku itu menjadi ”magnet” baru.
Seribu komputer layar lebar siap digunakan mengakses informasi dan buku digital. Ada pula restoran waralaba asing, studio musik, ruangan bioskop, ruang rapat, ruangan latihan kebugaran, serta ruangan dansa dan yoga ada di perpustakaan itu.
Bangunan-bangunan baru bakal bermunculan dengan desain modern dan berkonsep ”hijau”. Pusat seni dan budaya dirancang menyerupai Sydney Opera House Australia yang bersanding dengan danau. UI berencana membuka fakultas seni dan desain.
Kelak, di kampus ini juga bakal hadir rumah sakit pendidikan kelas dunia. Bulevar 800 meter dan lebar 55 meter dibangun di muka gedung rektorat. Asrama mahasiswa internasional berkapasitas 2.400 kamar siap dibangun, tetapi ada penolakan dari dalam.
Fasilitas olahraga pun akan dibangun, di antaranya kolam renang standar olimpiade dan lapangan golf. Fasilitas itu diyakini kebutuhan nyata. Bukan mengada-ada.
Perubahan nyata juga ada pada gaji dosen. Kenaikan gaji berkali-kali lipat untuk membuat betah pengajar dan fokus pada pengajaran dan penelitian.
Kampus hijau bakal menjadi ikon UI. Menghadirkan jalur sepeda dan memadukan transportasi kereta api. Bahkan, UI juga menggagas UI Green Metric World University Ranking yang diikuti 178 kampus di dunia, di antaranya Universitas Cornell dan Universitas Berkeley di AS, serta Universitas Nottingham di Inggris.
Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan, ia bertekad membuat UI menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan di dunia. Saat ini, UI pada peringkat ke-217 berdasarkan penilaian Quacquarelli Symonds World University Ranking 2011/2012. Posisinya di atas kampus-kampus ternama di India dan Taiwan.
Ambisi UI menjadi kampus kelas dunia memang mengagumkan. Setidaknya, dari paparan yang ada, secara fisik UI akan sangat modern. Gedung- gedung berarsitektur modern dengan fasilitas nomor satu bersanding dengan lingkungan yang hijau nan sejuk. Dan, sebagian sudah diwujudkan.
Di tengah visi kelas dunia itu, muncul seruan agar UI menjadi kampus yang tak elitis. Kampus terdepan yang mengembangkan ilmu dan memegang moral tinggi di tengah kemerosotan moral bangsa yang memilukan.
Di tengah gelora menuju UI berkelas dunia, UI tetap harus mampu menghadirkan tata kelola kampus yang baik. Berbagai indikasi keuangan yang buruk dan berpotensi korupsi pun harus bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Masalah internal juga perlu diselesaikan.
Para guru besar perempuan UI yang tergabung dalam Perempuan Lintas Fakultas untuk Reformasi UI (Pelita UI) memandang masalah otonomi, tata kelola, dan pengawasan merupakan soal penting. Mereka menggarisbawahi, perguruan tinggi sebagai kekuatan moral harus memperjuangkan nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Perguruan tinggi harus bebas dari kekuatan politik, uang, dan intervensi.
”Kami sebagai guru besar, pendidik, dan ibu menyatakan bahwa korupsi ancaman bagi pendidikan bangsa,” kata Prof Dr Sulistyowati Irianto. Di tengah visi kelas dunia, UI diuji menyelesaikan masalah internal secara elegan: elok dan rapi.
Bangunan-bangunan baru bakal bermunculan dengan desain modern dan berkonsep ”hijau”. Pusat seni dan budaya dirancang menyerupai Sydney Opera House Australia yang bersanding dengan danau. UI berencana membuka fakultas seni dan desain.
Kelak, di kampus ini juga bakal hadir rumah sakit pendidikan kelas dunia. Bulevar 800 meter dan lebar 55 meter dibangun di muka gedung rektorat. Asrama mahasiswa internasional berkapasitas 2.400 kamar siap dibangun, tetapi ada penolakan dari dalam.
Fasilitas olahraga pun akan dibangun, di antaranya kolam renang standar olimpiade dan lapangan golf. Fasilitas itu diyakini kebutuhan nyata. Bukan mengada-ada.
Perubahan nyata juga ada pada gaji dosen. Kenaikan gaji berkali-kali lipat untuk membuat betah pengajar dan fokus pada pengajaran dan penelitian.
Kampus hijau bakal menjadi ikon UI. Menghadirkan jalur sepeda dan memadukan transportasi kereta api. Bahkan, UI juga menggagas UI Green Metric World University Ranking yang diikuti 178 kampus di dunia, di antaranya Universitas Cornell dan Universitas Berkeley di AS, serta Universitas Nottingham di Inggris.
Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan, ia bertekad membuat UI menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan di dunia. Saat ini, UI pada peringkat ke-217 berdasarkan penilaian Quacquarelli Symonds World University Ranking 2011/2012. Posisinya di atas kampus-kampus ternama di India dan Taiwan.
Ambisi UI menjadi kampus kelas dunia memang mengagumkan. Setidaknya, dari paparan yang ada, secara fisik UI akan sangat modern. Gedung- gedung berarsitektur modern dengan fasilitas nomor satu bersanding dengan lingkungan yang hijau nan sejuk. Dan, sebagian sudah diwujudkan.
Di tengah visi kelas dunia itu, muncul seruan agar UI menjadi kampus yang tak elitis. Kampus terdepan yang mengembangkan ilmu dan memegang moral tinggi di tengah kemerosotan moral bangsa yang memilukan.
Di tengah gelora menuju UI berkelas dunia, UI tetap harus mampu menghadirkan tata kelola kampus yang baik. Berbagai indikasi keuangan yang buruk dan berpotensi korupsi pun harus bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Masalah internal juga perlu diselesaikan.
Para guru besar perempuan UI yang tergabung dalam Perempuan Lintas Fakultas untuk Reformasi UI (Pelita UI) memandang masalah otonomi, tata kelola, dan pengawasan merupakan soal penting. Mereka menggarisbawahi, perguruan tinggi sebagai kekuatan moral harus memperjuangkan nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Perguruan tinggi harus bebas dari kekuatan politik, uang, dan intervensi.
”Kami sebagai guru besar, pendidik, dan ibu menyatakan bahwa korupsi ancaman bagi pendidikan bangsa,” kata Prof Dr Sulistyowati Irianto. Di tengah visi kelas dunia, UI diuji menyelesaikan masalah internal secara elegan: elok dan rapi.
No comments:
Post a Comment