Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

02 February 2012

Tak Ada Cerita Sekolah Bagus Itu Murah...



JAKARTA, KOMPAS.com — Penyelenggaraan sekolah dengan label Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) membuat pemerintah merasa serba salah, khususnya mengenai pembiayaan. Ibarat dua sisi mata uang, di satu sisi wajib memenuhi amanat undang-undang (UU), di sisi lainnya pemerintah juga dituntut mengelola pendidikan dengan asas berkeadilan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Mohammad Nuh mengatakan, jika pemerintah membiayai RSBI secara penuh maka dikhawatirkan itu akan menimbulkan rasa "cemburu" dari sekolah lain yang levelnya berada di bawah RSBI. Menurutnya, biaya mahal merupakan konsekuensi dari pendidikan yang lebih berkualitas.



"Ditambah salah, dikurangi salah, dihentikan makin salah. Bagus, mahal itu jelas. Tak ada cerita sekolah bagus itu murah, dan untuk RSBI kita subsidi setengahnya," ujar Nuh, di Gedung DPR, Jakarta, Rabu (2/2/2012) malam.

Anggota Komisi X DPR M Nasrudin mengatakan, sesuai amanat UU, pemerintah harus membiayai secara penuh pendidikan di jenjang pendidikan dasar (SD/SMP), termasuk di dalamnya sekolah reguler dan RSBI.

Oleh karena itu, kata Nasrudin, tidak dibenarkan jika kemudian masyarakat dilibatkan membiayai operasional sekolah pada jenjang pendidikan dasar. Hal ini tak terkecuali bagi SD dan SMP berstatus RSBI.

"Prinsip awalnya itu. RSBI atau tidak, kalau jenjang SD/SMP tentu harus dibiayai APBN. Kecuali untuk jenjang SMA, karena UU tidak secara tegas manyampaikan, maka sekolah masih boleh memungut biaya dari masyarakat," kata Nasrudin, Rabu (1/2/2012) malam, di Gedung DPR, Jakarta.

Namun, Nasrudin mengungkapkan, perlu ada evaluasi terhadap kualitas seluruh sekolah berlabel RSBI. Tidak menutup kemungkinan untuk efisiensi anggaran, RSBI yang dinilai memiliki standar rendah akan dicabut label RSBI-nya.

"Harus ada evaluasi. Mungkin juga disederhanakan, dibatasi, dan menunda menambah sekolah RSBI karena ini terkait dengan mutu dan kemampuan daerah," ujarnya.

Sebelumnya, anggota Komisi X DPR, Tubagus Dedi Gumelar, mengatakan, pemerintah harus mampu membuat kebijakan pendidikan yang berkeadilan. Ia menilai, kebijakan pendidikan saat ini masih menciptakan disparitas di tengah masyarakat. Salah satu indikatornya adalah Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI).

Ia menjelaskan, pemerintah memberikan perhatian yang berbeda karena cenderung mengeksklusifkan RSBI. Berdasarkan pemantauannya, seluruh sekolah yang berlabel RSBI memiliki sarana dan tenaga pendidik kelas satu. Di lain sisi, sekolah dengan standar di bawahnya hanya menyelenggarakan pendidikan dengan sarana dan tenaga pendidik seadanya.
"Harusnya semua memiliki standar yang sama dengan RSBI. Guru yang sarjana, serta sarana dan prasarana yang sama. Kalau tidak, itu namanya diskriminatif," kata Dedi.
»»  SELENGKAPNYA...

Pemenang Nobel Sastra Meninggal Dunia

WARSAWA, KOMPAS.com — Pemenang nobel sastra, Wislawa Szymborska, yang pernah disebut sebagai Mozart-nya puisi, meninggal dalam usia 88 tahun pada Rabu, setelah menderita kanker paru-paru.

"Ia meninggal dengan tenang dalam tidurnya," ujar Asisten Wislawa Szymborska, Michal Rusinek, seperti yang dikutip kantor berita PAP.

Pujangga pemalu itu mau tidak mau menjadi terkenal saat dia menjadi pemenang nobel pada 1996. Wislawa menjadi orang Polandia keempat yang meraih penghargaan serupa. 

Penulis drama yang juga presiden Cekoslowakia, Vaclav Havel, menyebut Wislawa sebagai perempuan pendiam, santun, dan menyenangkan.

Wislawa, yang juga kritikus sastra dan penerjemah puisi Perancis, menerbitkan puisinya dalam buku tipis setelah dihilangkannya sensor Stalin pada 1957. Dia tidak mengakui puisi-puisi sebelum periode itu, baik gaya sastra maupun isi mencerminkan zaman Stalin.

Karya-karya Wislawa di antaranya "Calling Out to The Yeti" yang diterbitkan pada 1957, yang membandingkan pemimpin Uni Soviet, Joseph Stalin, dengan makhluk salju yang mengerikan. Kemudian "People on The Bridge" yang diterbitkan pada 1986 dan "The End and Beginning" yang ditulis pada 1993.

Puisi-puisinya dapat dikenali karena menggunakan fabel, anekdot, dan metafora panjang. Namun, tak jarang jua dibumbui dengan ironi dan humor yang menggigit.

Suatu ketika ada yang bertanya, mengapa dia hanya menerbitkan kurang dari 350 puisi?

"Aku punya tempat sampah di rumahku," jawab Wislawa.

Tahun lalu, dia mendapatkan penghargaan sipil tertinggi di Polandia, The Order of The White Eagle, yang diberikan langsung Presiden Polandia Bronislaw Komoroski.
»»  SELENGKAPNYA...

26 January 2012

UI, Kelas Dunia dan Bayang-bayang Elegan


KOMPAS.com - Wajah Universitas Indonesia menuju kelas dunia mulai diwujudkan. Pembangunan infrastruktur kampus dengan fasilitas tak biasa begitu gencar dibangun di kampus UI Depok seluas 320 hektar.

Perpustakaan pusat UI The Crystal of Knowledge seluas 33.000 meter persegi dikunjungi ribuan orang per hari. Perpustakaan dengan koleksi sekitar dua juta buku dari kapasitas enam juta buku itu menjadi ”magnet” baru.
Seribu komputer layar lebar siap digunakan mengakses informasi dan buku digital. Ada pula restoran waralaba asing, studio musik, ruangan bioskop, ruang rapat, ruangan latihan kebugaran, serta ruangan dansa dan yoga ada di perpustakaan itu.

Bangunan-bangunan baru bakal bermunculan dengan desain modern dan berkonsep ”hijau”. Pusat seni dan budaya dirancang menyerupai Sydney Opera House Australia yang bersanding dengan danau. UI berencana membuka fakultas seni dan desain.

Kelak, di kampus ini juga bakal hadir rumah sakit pendidikan kelas dunia. Bulevar 800 meter dan lebar 55 meter dibangun di muka gedung rektorat. Asrama mahasiswa internasional berkapasitas 2.400 kamar siap dibangun, tetapi ada penolakan dari dalam.

Fasilitas olahraga pun akan dibangun, di antaranya kolam renang standar olimpiade dan lapangan golf. Fasilitas itu diyakini kebutuhan nyata. Bukan mengada-ada.

Perubahan nyata juga ada pada gaji dosen. Kenaikan gaji berkali-kali lipat untuk membuat betah pengajar dan fokus pada pengajaran dan penelitian.

Kampus hijau bakal menjadi ikon UI. Menghadirkan jalur sepeda dan memadukan transportasi kereta api. Bahkan, UI juga menggagas UI Green Metric World University Ranking yang diikuti 178 kampus di dunia, di antaranya Universitas Cornell dan Universitas Berkeley di AS, serta Universitas Nottingham di Inggris.

Rektor UI Gumilar Rusliwa Somantri mengatakan, ia bertekad membuat UI menjadi perguruan tinggi yang diperhitungkan di dunia. Saat ini, UI pada peringkat ke-217 berdasarkan penilaian Quacquarelli Symonds World University Ranking 2011/2012. Posisinya di atas kampus-kampus ternama di India dan Taiwan.

Ambisi UI menjadi kampus kelas dunia memang mengagumkan. Setidaknya, dari paparan yang ada, secara fisik UI akan sangat modern. Gedung- gedung berarsitektur modern dengan fasilitas nomor satu bersanding dengan lingkungan yang hijau nan sejuk. Dan, sebagian sudah diwujudkan.

Di tengah visi kelas dunia itu, muncul seruan agar UI menjadi kampus yang tak elitis. Kampus terdepan yang mengembangkan ilmu dan memegang moral tinggi di tengah kemerosotan moral bangsa yang memilukan.

Di tengah gelora menuju UI berkelas dunia, UI tetap harus mampu menghadirkan tata kelola kampus yang baik. Berbagai indikasi keuangan yang buruk dan berpotensi korupsi pun harus bisa dipertanggungjawabkan kepada publik. Masalah internal juga perlu diselesaikan.

Para guru besar perempuan UI yang tergabung dalam Perempuan Lintas Fakultas untuk Reformasi UI (Pelita UI) memandang masalah otonomi, tata kelola, dan pengawasan merupakan soal penting. Mereka menggarisbawahi, perguruan tinggi sebagai kekuatan moral harus memperjuangkan nilai kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Perguruan tinggi harus bebas dari kekuatan politik, uang, dan intervensi.

”Kami sebagai guru besar, pendidik, dan ibu menyatakan bahwa korupsi ancaman bagi pendidikan bangsa,” kata Prof Dr Sulistyowati Irianto. Di tengah visi kelas dunia, UI diuji menyelesaikan masalah internal secara elegan: elok dan rapi.
»»  SELENGKAPNYA...