INILAH.COM, Jakarta - Korupsi berjamaah Wisma Atlit yang membalut para politisi Demokrat kini sudah sedemikian rupa terungkap ke ruang publik. Bagaimana sebaiknya Presiden SBY bersikap?
Begitu jelas terungkap di persidangan segenap aliran dana dari skandal berjamaah yang bersifat struktural itu, yang melibatkan pengusaha, politisi dan birokrat (pejabat). Mata rantai korupsi ini berkelit-kelindan membentuk jalinan kotor yang membuat dunia politik kian tohor.
Aliran uang dari proyek Wisma Atlet ke Angelina Sondakh dan Wayan Koster, misalnya, kini semakin terkuak. Mantan anak buah M Nazaruddin di Permai Grup yakni Yulianis, membeberkan tentang aliran uang untuk dua anggota Komisi Olahraga DPR yang juga duduk di Badan Anggaran (Banggar) itu.
Yulianis saat bersaksi pada persidangan atas terdakwa M Nazaruddin di Pengadilan Tipikor Jakarta, Rabu (25/1), mengungkapkan, uang yang diserahkan ke Wayan Koster dan Angelina Sondakh itu atas dasar permintaan dari Mindo Rosalina Manulang. Menurut Yulianis, uang yang digelontorkan untuk Angelina dan Wayan itu totalnya Rp5 miliar.
Mantan Wakil Direktur Keuangan di Permai Grup itu menyebut uang Rp5 miliar untuk Angelina dan Wayan terdiri dari Rp2 miliar dan Rp3 miliar. "Angelina Sondakh strip Wayan Koster. Ada pembukuan. Ada di laporan pembukuan. Ada saya laporkan ke Pak Nazar," kata Yulianis.
Lebih lanjut Yulianis mengatakan, sopirnya yang bernama Luthfie mengantar uang untuk Angelina. Uang untuk Angelina yang juga Wakil Sekjen Partai Demokrat itu diserahkan melalui stafnya yang bernama Jefrie.
"Saya pernah ditelepon Jefri. Menurut Bu Rosa, itu (Jefrie,red) stafnya Bu Angelina Sondakh. Untuk penerimaan uang yang dikirim Lutfi, dua miliar dan tiga miliar. Saya cuma bilang, ada permintaan dari Bu Rosa (soal uang untuk Angelina,red), saya ajukan ke Bu Neneng (istri Nazaruddin) dan uang itu bisa keluar," kata Yulianis.
Uang untuk Wayan Koster juga diantar Lutfie. Hal itu berdasarkan pengakuan Lutfie kepada Yulianis. "Saya sudah antar ke ruangan Pak Wayan Koster, tadi berpapasan dengan Angelina dan Wayan," kata Yulianis menirukan ucapan sopirnya itu.
Wayan Koster penah menerima sendiri uang dari Nazaruddin. Yulianis menyebut salah satu stafnya, Dewi, pernah menemui Wayan Koster. "Kalau Dewi itu langsung ke Wayan Koster tanpa perantasa," sambunngnya.
Fakta-fakta tersebut menyingkap secara telanjang betapa aliran dana skandal Wisma Atlit direncanakan secara terstruktur, belum lagi kasus Hambalang dan proyek korupsi lainnya.
Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono mengakui adanya kader yang menyimpang dari etika berpolitik, tidak bersih, tidak cerdas, dan tidak santun. Yudhoyono mempersilakan kader yang tidak patuh pada etika berpolitik untuk keluar dari keanggotaan Partai Demokrat.
“Siapa saja yang tidak mau dan tidak sanggup menjalankan prinsip dan etika perjuangan partai, khususnya politik bersih, lebih baik meninggalkan partai ini. Nama baik, citra, dan kehormatan partai di atas segalanya,” kata SBY dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang diselenggarakan di Sentul International Conference Center, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (23/7/11).
Selaku Ketua Dewan Kehormatan Partai Demokrat, Yudhoyono menyatakan, akan memimpin langsung pembersihan partai dari kader bermasalah. Dia juga memerintahkan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan seluruh jajaran Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat untuk memimpin dan menyelesaikan kemelut dalam partai.
Menurut pengajar Komunikasi Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Gun Gun Heryanto, Partai Demokrat harus segera mengumumkan pemecatan sejumlah kader bermasalah, terutama mereka yang sudah benar-benar terbukti terlibat korupsi. Selain itu, investigasi juga dibutuhkan untuk mengurai kasus-kasus yang diduga melibatkan para kadernya.
Kini dengan terkuaknya aliran dana ke banyak politisi Demokrat di DPR, maka konsistensi SBY dan Demokrat untuk bersih-bersih diri sangat ditunggu. Apakah SBY mau? Ataukah SBY harus menunggu KPK menetapkan status tersangka terlebih dulu?
Jika yang terakhir menjadi pilihan SBY, maka gelombang ketidakpercayaan publik akan sulit dibendung. Sungguh, lebih baik SBY mengambil prakarsa membersihkan Demokrat dari politisi kotor sebelum langit makin mendung, sebelum tiang bendera Demokrat melengkung.
No comments:
Post a Comment